GuidePedia

0

BANJARNEGARA -  Konon menurut legenda,  Sungai Serayu pusatnya ada di dataran tinggi Dieng. Munculnya Sungai Serayu ini dari air seni Bima atau Wrekudara. Saat ini Sungai Serayu telah menjadi sumber kehidupan, tidak hanya bagi masyarakat Wonosobo dan Banjarnegara, tetapi juga Purbalingga, Banyumas, dan ujungnya sampai Kabupaten Cilacap.
Itulah sepenggal legenda Sungai Serayu yang dikisahkan oleh Bupati Banjarnegara H Sutedjo Slamet Utomo SH MHum kepada seluruh peserta Kongres Sungai Indonesia di Balai Budaya, Rabu (26/8).
Menurut Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, cerita rakyat tentang sungai terpanjang di Pulau Jawa tersebut merupakan langkah cerdas untuk menggelorakan kembali pendekatan budaya dalam melestarikan sungai. Sehingga, masyarakat benar-benar peduli dan bertanggung jawab terhadap kondisi sungai di daerahnya masing-masing.
"Pendekatan budaya harus kita dorong. Sehingga perilaku harus diubah. Kalau kita menghadap ke sungai, ya biar saja yang kencing si Bima (Wrekudara) saja. Kita nggak perlu ngencingin (sungai). Buang airnya ya di jamban lah (bukan di sungai)," ujarnya saat membuka Kongres Sungai Indonesia bersama Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani.
Ganjar mengakui, persoalan sungai tidak hanya mencakup kondisi fisik sungai yang memburuk. Tetapi juga berkaitan dengan persoalan budaya. Dirinya membeberkan, setidaknya ada 52 sungai strategis di Indonesia yang tercemar. Seperti Sungai Citarum yang sepanjang 300 meter dari sisi hulunya sudah tercemar. Sementara bantaran Sungai Code di Yogyakarta sudah lama ditinggali oleh para penghuni liar.
"Dari pengalaman Yogya, Sungai Code itu bukan problem fisik saja, tetapi problem budaya. Anak-anak yang nggak berkeliaran dengan kenakalannya di pinggir Code itu diusir orang. Sana kamu pulang! Jawaban dia itu, Apa? Pulang? Pulang itu hilang dari kamusnya karena ketika dia tidur, ketika dia bangun, dia selalu pulang karena tidak punya (tempat tinggal)," terangnya.
Oleh sebab itu, perilaku masyarakat terhadap sungai harus diubah dengan berpedoman pada 3M (mundur, munggah, madhep). Pertama, masyarakat harus mundur dari sepadan sungai hingga 10 meter. Kedua, masyarakat tidak boleh lagi membangun bangunan secara horizontal, melainkan vertikal (munggah). Terakhir, masyarakat harus menjaga keberhasilan pelestarian sungai dan tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan.
Senada dengan Ganjar, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani juga berpesan agar masyarakat bersama-sama mencermati 'identitas' sungai di daerah mereka masing-masing.
"Tugas kita bersama adalah mencari mata air yang ada di setiap sungai. Kemudian mana hilirnya, mana hulunya. Apa ikan khas dari sungai tersebut? Apa biodata dari sungai-sungai tersebut? Apa manfaatnya bagi masyarakat yang ada di bantaran sungai? Jangan biarkan masyarakat sedikit demi sedikit tinggal di dekat sungai itu sampai kemudian menjadi masalah buat kita (pemerintah) sehingga kita harus gusur lagi mereka. Tetapi dari awal memang sudah kita larang," pesannya.
Usai membuka Kongres Sungai Indonesia, Gubernur Ganjar Pranowo dan Menko PMK Puan Maharani menikmati minuman khas Banjarnegara dawet ayu, sekaligus meresmikan acara "Banjar Banjir Dawet". Keduanya juga menyaksikan pameran sungai di Balai Budaya.

Post a Comment

 
Top